Searching...
Thursday, 27 October 2011

Chapter 2. Hutan Bennezard : Sungai yang Bercahaya



Sungai yang Bercahaya

Dean mulai sadar. Hamaparan tanah luas yang berbalut dengan daun-daun yang kering kecolkatan terpampang di hadapannya. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, menutupi sinar matahari yang ingin menembus ke dalam. Dia sadar, dia ingat, ini mirip sekali seperti apa yang ada di dalam mimpinya. Hutan ini bergitu luas, dan tak ada siapa pun disekelilingnya. Dean berpikir kalau mungkin para penduduk disini sedang sibuk atau apa lah. Kakinya mulai melangkah dalam keheningan yang dibuyarkan oleh teriakan burung-burung dan kepakan sayap mereka ketika melompat terbang dari cabang-cabang pohon. Langkah kakinya mulai ringan tanpa ada ketegangan. Menyusuri jalan yang tanpa tujuan membuatnya sedikit pusing. Dean berharap agar dia bisa menemukan air di dekat sini, karena terlalu haus atas keterkejutannya akan dua buah batu besar dan hutan misterius ini.
Setelah beberapa kilo berjalan dari tempat dia datang, dalam keremangan karena sinar matahari yang dihalangi oleh dedaunan, terlihat sungai kecil yang mengalir dan bersinar seperti ada senter besar yang diletakkan di dalamnya. Kakinya yang hanya memakai sepatu tanpa kaoskaki, mengayun dengan cepat tanpa lelah setelah perjalanan berkilo kilo. Matahari seperti sedang melambaikan tangannya dan berkata ‘Selamat Tinggal’. Wajahnya yang berkeringat mengalir membasahi debu yang menempel dipelipisnya sehingga membentuk garis garis. Setelah berlari dalam keinginan ingin meminum seteguk air, dan akhirnya dia sekarang berada didepan kolam yang bercahaya. Ekspresi wajahnya yang besinar terpantul oleh cahaya dari kolam terlihat shock ketika memandangi sebuah sungai yang mengalir liri, menghasilkan bunyi gemericik. Mulutnya menganga dan matanya melebar selebar-lebarnya. Tumbuhan-tumbuhan dan juga batu karang yang hidup di dalam air sungai seperti di beri micro-lamp di dalamnya sehingga terlihat bercahaya. Dean sangat terkejut dan juga bahagia ketika melihat tanaman-tanaman yang mungkin takkan bisa ditemui didunianya. Dia tahu jenis tanaman ini tat kala dia membaca sebuah buku tentang Bioluminesensi. Melihat pemandangan yang tak biasa ini, dia hampir lupa akan tujuannya kemari, namun dia sadar dan segera mengambil sehelai daun dan membuatnya mencadi kerucut. Di gayuhnya air yang bagai kristal terkena cahaya dari tumbuhan air, dan diminumnya dalam satu tegukan. “Huuhh..”, Dean mengendus mengeluarkan udara melalui hidung serta mulutnya. Setelah puas meneguk beberapa gayuhan air, dia berbalik dan terlihat muka yang sama ketika melihat sungai. “Wow!”, serunya sambil sedikit tertawa kecil. Betapa terkejutnya dia ketika melihat semua yang ada disini memancarkan cahaya. Rumput yang diinjaknya, dedaunan yang melambai-lambai dan juga lumut-lumut yang senantiasa menempel pada kulit pohon. Betapa indahnya dunia ini.

0 comments:

Post a Comment

 
Back to top!