Searching...
Wednesday, 26 October 2011

Chapter 1. Hutan Bennezard : Dua Batu Besar


Dua Batu Besar

Gara-gara ayahanya mendapat pekerjaan di luar kota, terpaksa dia keluar dari sekolahnya yang menurutnya sekolah yang membawa beberapa kenangan, kenangan yang takkan pernah terlupakan yang membuatnya sangat berbahagia jika dia harus keluar dan meninggalkan sekolah itu. Dia lahir dalam keluarga Hudson yang telah memberinya nama Dean Britch Hidson. Ya, namanya Dean Hudson.
Ketika semua berlalu, takan ada lagi yang mengganggunya . Sangat menyenangkan baginya, tat kala tiada lagi yang bisa mengusiknya sekarang. Tersenyum dalam ingatan-ingatan yang sekarang baginya hanyalah sesiur angin yang sedang datang menghampirinya dan akan berlalu begitu saja. “Duaarr!!” Suaranya hampir seperti petir yang mungkin bisa menggetarkan kaca jendelanya. Dia segera bergegas melongok keluar lewat jendela kaca yang ada tepat di sampingnya. Terlihat dua buah batu besar yang sepertinya terjatuh dari langit. Hentakan kakinya bergemuruh di sudut ruangan melewati tangga menuju ruang tengah. Segera dipegangnya handle pintu utama menuju halaman depan dan diputarnya sesuai arah jarum jam. ‘cklek’, terpampang dua buah batu yang sangat besar. Tingginya berkisar tujuh kaki dan lebarnya berkisar 10-11 kaki. Beberapa senti bagian bawah dari batu itu terpendam tanah, bentuknya tak beraturan dan lapisan luarnya sangat halus. 
Dia sedang terpelongo melihat apa yang dilihatnya. Sesuatu yang aneh telah terjadi. Beribu-ribu pertanyaan sepertinya sedang berbaris membentuk sebuah kelompok prajurit yang siap menyerbu pikirannya. Pikirannya mulai berputar dan menjelah seluruh riwayat yang tersimpan di dalamnya. Dalam keremangan, dia melihat serakan dedaunan kering kecoklatan membuat hamparan tanah tak terlihat. Di belakanya, terdapat dua batu besar saling berdempetan satu sama lain. Dia tersadar dari pikirannya, dan dia ingat kalau batu itu ada dalam mimpinya ketika dia pertama kali bermalam di rumah ini. Mondar mandir, berusaha untuk mendapatkan sesuatu dan juga memohon agar ada sesuatu yang datang dalam pikirannya. Tubuhnya mematung, ketika dia melihat bagian tengah antara dua batu itu membuka dan membentuk sebuah lubang yang cukup besar untuk dimasuki. “Kemarilah kau, masukklah kedalam dan kau tidak akan celaka”, terdengar suara pria yang sangat berat yang keluar dari mulut lubang batu itu. Tanpa sadar, dia mulai melangkahkan kaki menuju lubang itu.

0 comments:

Post a Comment

 
Back to top!